Jenis dan Perbedaan Tari Bali, Bebali, dan Balih-Balihan
Tari tradisional di Bali bukan sekadar ekspresi seni semata, tetapi juga memiliki makna mendalam dalam konteks upacara agama. Umat Hindu di Bali secara konsisten mengiringi pelaksanaan upacara agama mereka dengan tarian, yang sering disebut sebagai tarian sakral.
Hingga saat ini, keberlanjutan tarian sakral di Bali dapat dijelaskan oleh ketegasan para pendukungnya yang melestarikannya. Mereka memegang keyakinan kuat bahwa merubah atau meninggalkan tarian sakral tersebut dapat membawa malapetaka dalam kehidupan mereka.
Pentingnya tarian sakral ini terletak pada kaitannya dengan upacara agama. Para pendukungnya yakin bahwa tarian ini memainkan peran penting dalam membawa harapan untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik secara individu maupun secara kolektif. Tarian ini dianggap sebagai medium persembahan dan pemujaan kepada Tuhan, yang diharapkan akan memberikan perlindungan, keselamatan, kekuatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup.
Adanya klasifikasi tarian menjadi tiga golongan, yaitu Tari Bali, Bebali, dan Balih-Balihan, membantu untuk menghindari penafsiran yang baur tentang seni tari. Seiring dengan perkembangan seni tari itu sendiri, klasifikasi ini mempermudah pemahaman dan mempertahankan keaslian serta keagungan dari warisan budaya ini.
Apa Perbedaan dari Tari Bali, Bebali, dan Balih-Balihan?
Dalam dunia seni tari Bali, terdapat perbedaan yang mencolok antara Tari Bali, Bebali, dan Balih-Balihan. Untuk menjelajahi makna dan esensi masing-masing, kami merinci klasifikasi tarian ini ke dalam tiga golongan yang memukau.
1) Tari Bali atau Wali
Tari Bali atau Wali menghadirkan keindahan tanpa kata-kata. Pementasannya terjadi seiring dengan pelaksanaan upacara, menghantarkan peserta upacara ke dalam dunia simbolis religius. Tarian ini tidak mengandung cerita melainkan memancarkan keindahan melalui gerakan dan simbolisasi. Misalnya, dalam tarian Rejang, Pendet, Sanghyang, atau tari Baris Gede, kesucian dan keagungan ritual terpancar melalui gerakan yang memukau.
2) Tari Bebali
Tari Bebali menjadi sarana pengiring yang memukau dalam jalannya upacara. Melalui pementasannya yang bersamaan dengan upacara, tarian ini mengekspresikan suatu cerita yang harmonis dengan peristiwa yang tengah berlangsung. Dengan gerakan yang mengalun seiring ritme upacara, Tari Bebali membawa penonton ke dalam pengalaman visual yang memikat, menggambarkan cerita dengan keanggunan tarian yang menarik.
3) Tari Balih-Balihan
Berbeda dengan yang sakral, Tari Balih-Balihan hadir sebagai hiburan murni. Tanpa keterikatan pada upacara agama, tarian ini menawarkan keindahan seni tari yang luhur melalui karya seperti tari legong, tari janger, joged, dan lainnya. Merupakan hiburan dan tontonan yang menggugah, Tari Balih-Balihan membawa unsur dasar seni tari ke panggung, menciptakan pengalaman yang menghibur dan memukau.
Melalui rumusan klasifikasi ini, seni tari Bali terbebas dari penafsiran yang baur. Sejalan dengan perkembangan seni tari itu sendiri, keberagaman dan keunikan masing-masing tarian tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya yang patut dijaga. Setiap gerakan, setiap nuansa, dan setiap cerita di balik Tari Bali, Bebali, dan Balih-Balihan menyatu dalam panorama seni yang memikat, membawa penonton lebih dekat dengan kekayaan budaya Bali yang begitu mendalam.
Topeng Pajegan
Topeng Pajegan, gemerlapnya seni tari Bali yang merayakan peran sebagai Tari Bebali, telah menyemarakkan berbagai upacara keagamaan di Pulau Dewata. Menurut Keputusan Seminar Seni Sakral dan Profan dalam Bidang Tari, Topeng Pajegan dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari tarian yang berfungsi sebagai pengiring upacara di Pura-Pura dan tempat suci lainnya.
Pementasan Topeng Pajegan menjadi sentuhan magis dalam melengkapi upacara keagamaan. Dalam konteks ini, kehadirannya dianggap penting untuk mempersembahkan upakara dengan sempurna. Tanpa Topeng Pajegan, suatu upacara dianggap belum mencapai kelengkapan spiritual yang diinginkan.
Topeng Pajegan sering menyapa penontonnya di halaman "dalam" suatu tempat persembahyangan atau situs suci lainnya. Pementasannya diatur sejalan dengan berlangsungnya upacara, beriringan dengan gerak tari yang mengalun indah. Uniknya, pementasan ini tidak memerlukan dekorasi megah; pelaku tari beraksi di depan barungan gamelan yang memberikan iringan suara yang memukau.
Lakon yang diambil untuk Topeng Pajegan biasanya bersumber dari Babad atau Sejarah, tetapi keberadaan tokoh "Sidhakarya" mutlak ada dalam setiap pementasan. Sidhakarya memiliki makna mendalam sebagai simbol penyelesaian upacara. Dalam seremoni ini, penyelenggara membawa "sekar ura, bija kuning, uang kepeng" sebagai sesajen, lambang pemberkahan, dan penanda kesakralan.